Rabu, 04 Maret 2015

Episode 1

1. SEBUAH PEMAHAMAN

“Dalam ilmu sejarah yang kita dalami, verstehen kita tentang suatu kejadian penting
tidak akan pernah sama…
Namun apakah itu akan berlaku mutlak dengan apa yang kita rasakan sekarang?”

            Udara dingin masih mengungkungi tubuhnya yang terlelap ketika adzan subuh berkumandang. Lamat-lamat, tapi terdengar jelas suara adzan bersahutan membangunkan umatNya yang senantiasa beriman untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Mata yang masih terkantu-kantuk itu pun perlahan membuka. Dikuat-kuatkannya menahan sergapan rasa kantuk yang masih mendera. Memang hanya rasa letih yang dia rasakan setelah masa ospek menguras habis tenaga dan pikirannya. Ingin ia tertidur sangat lelap dan dalam, namun tak bisa.
            Sejurus kemudian ia mengambil air wudhu untuk kemudian menunaikkan sholat subuh. Sekalipun tubuhnya letih, ia masih bisa menikmati ketenangan yang menyusup halus ke dalam setiap gerakan sholatnya. Ia sangat menikmati ibadahnya, sangat menikmati ketenangan yang ada. Baginya tiada yang lebih menyegarkan ketika sekaan air wudhu membasahi wajahnya. Ia sangat khusyu’, hingga akhirnya salam dan ia lanjutkan dengan berdzikir. Ia kemudian berdoa, dan doa yang terus berulang sejak dia masih SMA. Doanya agar semakin mencintai Allah, semakin kuat menghadapi cobaan, dilapangkan rejeki dan ilmunya serta barokah, dan mendoakan almarhumah ibundanya agar mendapatkan tempat terindah di sisi Allah.
            Setelah sholat dia membuka kamar kosnya yang terletak di lantai paling atas di bangunan 3 lantai tersebut. Dia menoleh kiri kanan, semua pintu kos masih tertutup kecuali kamarnya. Dia melangkah pelan menuju lantai menuju balkon atas. Memandang sekeliling dan merasakan kesegaran udara pagi yang masih perawan belum terkotori oleh polusi asap-asap kendaraan. Samar-samar terlihat Merapi berdiri dengan gagahnya berhiaskan asap yang keluar dari puncaknya. Dia terdiam menikmati semua anugerah yang sungguh indah ini. Teringatlah ayat surat Ar Rahman yang banyak diulang-ulang, “Maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?”
            Dirinya sungguh sangat bersyukur dengan keadaan yang sekarang, dengan hidup yang berkecukupan, pendidikan yang terjamin, makan juga tidak takut kekurangan. Uang beasiswa S2 yang ia terima tiap bulan sudah lebih dari apa yang dibutuhkannya. Kini ia tak perlu memikirkan apa-apa lagi kecuali fokus untuk segera menggondol gelar Master di bidang sejarah, sesuatu yang sangat ia idamkan dari dulu.
            “Alhamdulillah Ya Rabb, atas semua anugerah yang sangat indah ini. Kuatkan hati dan pikiranku Ya Allah”, gumamnya pelan.
            Dia kembali menapaki anak tangga untuk masuk ke kamar kosnya, menyiapkan buku-buku dan lembaran paper yang akan menjadi materi kuliahnya hari ini. Di dinding kamar kosnya ada secarik kertas lusuh yang menempel di dinding. Kertas yang berisi berbagai pengharapan untuk masa depan pendidikannya yang perlahan mulai terpenuhi. Ketas itu sudah ada ketika ia masih menempuh pendidikan S1 beberapa tahun lalu di Surabaya. Berharap ia akan menjadi seorang professor di bidang sejarah sosial, Prof. Dr. Bayu Sancaka S.Hum.,M.A. Kini ia bersiap mandi dan bergegas untuk menimba ilmu tentang sejarah, bidang yang sangat dia cintai semenjak dahulu.


            Yogyakarta pagi itu sangat cerah, padahal masih terhitung dalam musim hujan. Beberapa kali hujan membasahi Yogyakarta, namun hanya lewat saja. Hanya sebentar turun untuk sekedar membasahi tanah dan Pepohonan rindang. Jalanan ramai oleh kendaraan roda dua yang sebagian besar didominasi oleh para pelajar. Bayu juga tak mau ketinggalan untuk menjadi bagian dari keramaian tersebut, meskipun dia tahu beberapa ruas jalan akan sedikit macet. Ia mengecek kembali apa saja yang dibawanya. Setelah semuanya siap, ia turun ke pelataran kos tempat di mana motor para penghuni kos diparkirkan. Beberapa agenda sudah menantinya di hari itu.
            Sejenak dia mencolokkan earpiece ke handphonenya dan memutar lagu-lagu yang sekiranya cocok untuk didengarkan sepanjang perjalanan. Sejurus kemudian ia mulai menghidupkan motor dan memanasi mesinnya agar selalu terjaga performanya. Selagi menunggu beberapa menit untuk memanasi mesin motornya, ia kembali mengecek ulang apa saja yang dibawanya hari ini. Setelah siap, Bayu berangkat ke kampus tercintanya.
            Benar saja, jalanan kota Yogyakarta sudah ramai dengan aktivitas manusia dan deru laju kendaraan. Hanya sedikit yang menggunakan sepeda onthel, selebihnya jalanan penuh sesak oleh mobil dan motor. Namun tampaknya Bayu masih bisa menikmati suasana rame, dan sambil bergumam pelan menirukan lagu yang terputar. Di sebuah lampu merah dekat daerah Pojokan Benteng, dia berhenti. Sejenak dia mengambil handphone dan melihat jam serta mengganti lagu.
            “Masih banyak waktu”, gumamnya pelan sambil menekan-nekan layar handphonenya. Kali ini ia sangat ingin mendengarkan sebuah lagu dari Letto yang berjudul Senyumanmu. Entah apa yang sebenarnya dirasakan Bayu, hanya dia yang mengerti. Yang pasti, ada semacam kerinduan terhadap lagu itu. Lampu merah berganti hijau dan Bayu melanjutkan perjalanannya.
            “Oh.. Bukanlah cantikmu yang ku cari, bukanlah itu yang aku nanti…”
            Bayu bergumam pelan menyanyikan bait demi bait yang terdengar jelas di telinganya. Dia terbawa suasana rindu tapi tak mengerti rindu kepada siapa. Melewati sebuah tikungan ke arah kampusnya, dia sempat melihat sesosok gadis berseragam SMA yang akan masuk ke SMA Negeri 3 Yogyakarta. Dia sedikit memelankan laju kendaraannya dan ingat kepada siapa rasa rindu yang tiba-tiba mengalun bersama lagu Letto yang sedang ia dengarkan. Ya, Bayu teringat seseorang yang sangat ia kenal betul. Seseorang yang masih bersabar menunggu Bayu menggondol gelar Master di bidang sejarah. Seseorang yang jauh di sana, terpisah jarak beratus-ratus kilometer.
            Begitu nikmatnya Bayu mendengarkan alunan nada-nada dan kata-kata sederhana namun indah dari Letto, sampai dia tersadar dia sudah ada di dekat kampusnya. Universitas Gajah Mada, tempat ia sekarang menimba ilmu, mencurahkan segala daya dan upayanya demi mengejar cita-citanya sebagai seorang sejarawan.

Selasa, 03 Maret 2015

SADRANAN BEACH, UNFORGOTTEN VIEW IN MY 24 YEARS-LIFE

BERLIBUR KE PANTAI (LAGI)

Selamat siang gaess, ini ada oleh-oleh cerita menarik yang pengen ane bagi sama kalian para makhluk omnivora. Lho kok tumben gak nulis posting tentang sejarah dan tetek bengeknya om? Sudah ada tinggal merevisi doang. Tapi ya masa' postingan kok pada serius mlulu. Sekali-kali nulis yang seger-seger gakpapa kan hahaha :D

Nah hari Kamis tanggal 26 Februari kemaren, ane (nekat) maen ke Jogja sendirian, demi bertemu sesosok manusia yang bernama Om Bayu. Doi sekarang lagi menempuh pendidikan S2 Ilmu Sejarah di Program Pascasarjana FIB UGM. Lho katanya pengen nulis yang seger-seger, kok ujung-ujungnya sejarah lagi? Bukan..bukan..temen ane yang sejarah, postingan ini gak ada hubungannya sama sejarah kok. Dijamin seger!!!

Balik lagi ke topik, ane main ke Jogja. Waktu nyampe Stasiun Lempuyangan, tuh bocah uda standby jemput ane. Finally setelah hampir satu tahun lebih gak ketemu, ane akhirnya ketemu sama makhluk Tuhan yang paling sexy ini hahaha... Temu kangen gaess, secara sewaktu masih sama-sama menempuh pendidikan S1 Sejarah di Unair kita gak terpisahkan (ciiyeee hati-hati maho yak?) Sejenak kita muter-muter kota Jogja sambil nyari warung yang murah buat makan tapi rasanya enak hehehe...

Setelah makan kita muter-muter di komplek kampus UGM. Hmmm...Universitas Gajah Mada, kampus impian setiap pemuda pemudi Indonesia, tak terkecuali ane yang juga masih ngarep buat ngelanjutin pendidikan di sana. Semoga terkabul Ya Allah, amin amin amin.

Nah asyiknya lagi, selain harga makanan, minuman, dan jajanan yang gak nguras isi kantong juga tenaga, ternyata tempat tinggalnya si Bayu ini berdekatan dengan Pondok Pesantren Al Munawwir di Krapyak. Yang belum tau berarti gaptek ato cupu ato apalah itu, tuh ponpes terkenal gak cuma di Jogja aja tapi di Indonesia. Wah mata ane seger gaess, gak bisa ngantuk liat santriwati-santriwatinya yang lagi beli pengganjal perut. Duh, kalo liat yang bening-bening gini pengen cepet-cepet berkeluarga gaess hahahaha... Sayang ane gak sempet mengabadikan sosok-sosok jelita di sana, soalnya ane malu gaess buat ngambil fotonya hihihi

Om Bayu ini tinggal satu kontrakan dengan Kang Nilzy (nama populer, red). Kang Nilzy juga satu kelas sama ane sama Om Bayu sewaktu kita menempuh pendidikan S1 Sejarah di Unair. Cuman bedanya kalo Om Bayu ambil S2 linear, Kang Nilzy ini ngambil S2 Pariwisata, juga di UGM. Dan Kang Nilzy ini sudah nikah dan baru dikaruniai seorang buah hati, selamat ya Kang!! :) Kebetulan pas ane ke situ, Kang Nilzy beserta sekeluarga lagi pulkam ke Surabaya :|
Setelah melepas lelah kita bikin planning buat jalan-jalan. Hari Jumat mau ke mana, Sabtu mau ke mana, dan Minggu mau ke mana.

Oke kita skip langsung ke liburan pantainya. Hari Sabtu kita sudah berencana ke Pantai Sadranan. Awalnya ane juga gak paham tentang tuh pantai, karena gambaran ane nanti ke pantainya mau ke Pantai Indrayanti atau Pantai Poktunggal. Bahkan si Ali Raja Tanjakan itu sempet bbmin ane list pantai yang bagus-bagus di Jogja, cuma ane gak ada pikiran ke Pantai Sadranan. Kalo gak Indrayanti, ya Poktunggal aja. Akhirnya ane ikut aja, kita bangun jam 4, ane mandi sementara Om Bayu gak berani mandi. Pukul 05.00 kita berangkat menjemput cemewewnya Om Bayu yaitu Mbak Hasna. Doi ini temen satu kelas Om Bayu di pascasarjana hahaha... Jadilah Om Bayu sama Mbak Hasna dan ane sama...? Lupakan aja!!! (soalnya miris gaess)

Nah ini dia trayek yang akan kita lalui untuk sampai di pantai tersebut:

(Captured from my Smartfren Andromax i + Sygic 13 offline GPS)

Itu kan ada 2 trayek yang diberi tanda ungu, yang trayek dengan garis ungu kecil itu sebenernya lebih deket cuman Om Bayu sama Mbak Hasna uda hapal trayek yang kedua yang garis ungunya tebel itu. Toh jaraknya cuma 4 km kan gak begitu jauh hehehehe...

Segera kita capcuss, melewati ringroad Jogja menuju arah Wonosari. Nah pas lewat perbukitan di kecamatan Pathuk ada spot foto yang bagus banget gaess. Lokasinya itu di sebuah tanjakan, dengan view persawahan dan perkampungan di bawah Bukit Pathuk. Di belakangnya keliatan Gunung Merapi dan perbukitan Imogiri yang masih diselimuti kabut. Kabutnya kayak kapas, ato arbanat, kembang gula, apalah itu. Yang jelas bagus banget!!! Cuma kamera ane kurang mendukung buat foto-foto jadi ya hasilnya pas-pasan -_-

Ini ane kasih penampakannya:
 
(Captured with my Treq Tune Z2 with stock editing app)

 (Captured with my Treq Tune Z2)

(Captured with my Treq Tune Z2)

(Captured with my Treq Tune Z2)

(Si Om Bayu, cuma kok melas gitu wajahnya wkwkwk)

Emang bagus banget gaess, bikin seger pemandngannya. Mata jadi adem liat begituan hehehe. Biasanya ane suka adem aja kalo liat adek-adek mahasiswa ato santriwati Al Munawwir yang cantik nan unyu-unyu, cuma ini asli sangat bagus dan bikin ane tertegun. Betapa indahnya kuasa Allah pagi itu :))

Ane punya feeling perjalanan kali ini bakalan berjalan lancar dan seru, soalnya uda ada pertanda pemandangan landscape kayak gitu. Setelah foto-foto gak jelas akhirnya kita nglanjutin perjalanan. Enak Om Bayu sama Mbak Husna berboncengan sementara ane solo riding selama 2 jam men! Sebagai hiburannya ya nyolokin earpiece ke hape, trus nyanyi-nyanyi merdu deh di sepanjang perjalanan sambil menikmati pemandangan sepanjangan perjalanan dan tentunya wajah cewek-cewek cakep khas Jawa ahahahahahaha XD

Setelah sekian tahun menempuh perjalanan dan beberapa kali salah belok (karena Om Bayu gak percaya sama GPS gue, damn!) akhirnya sampailah kita di tekape, yaitu Pantai Sadranan. And check this out, kalo kalian gak mupeng pengen ke sana berarti kalian gak cinta Indonesia!!!

(Captured with my Treq Tune Z2)

 (Captured with my Treq Tune Z2)

 (Captured with my Treq Tune Z2)

(Captured with my Treq Tune Z2) 

Masih sepi (Captured with my Treq Tune Z2) 

 (Captured with my Treq Tune Z2) 

 (Captured with my Treq Tune Z2) 

Entah ini orang ngapain (Captured with my Treq Tune Z2) 

Pasirnya putih gaess (Captured with my Treq Tune Z2) 

 (Captured with my Treq Tune Z2) 

Si om ini juga sebenernya ngapain ya? (Captured with my Treq Tune Z2) 

Si om belajar snorkling hahaha (Captured with my Treq Tune Z2) 

Apa lu kagak pengen nyemplung kalo kayak gini beningnya? (Captured with my Treq Tune Z2) 

Dan akhirnya kita memutuskan selfie di tengah laut hahaha (Captured with my Treq Tune Z2) 

 Nah itu gaess apa lu orang gak ngiler kalo pantainya sebening itu? Yang ane sayangin, kenapa tuh air rasanya asin terus bikin mata perih? Coba airnya tawar terus gak bikin perih, kan enak snorkling ato diving gak bakal perih!!!

Oiya, inpo penting nih gaess... Di sana itu satu garis pantai cuma terbagi jadi beberapa spot. Noh yang di belakang batu gede itu ada namanya Pantai Indrayanti, cuman ombaknya gede khas pantai selatan. Nah di gambar no. 5 (itung aja sendiri dari atas), belakang bukit itu ada yang namanya Pantai Krakal. Ketiga pantai itu berpasir putih dan berair biru jernih. Cuma yang terbaik ya emang Pantai Sadranan soalnya ombak pecah di tengah, kena' gugusan karang di pinggir pantai. Dan terumbu karangnya menarik, banyak ikan laut berbagai warna. Semacam warna pelangi gitu, cuma gak ada warna yang beningan hahahaha... Sayang ane gak bisa mengabadikan soalnya kamera ane bukan kamera waterproof, jadi beraninya cuma selfie di tengah laut XD

Nah ini nih ane kasih view dari sebuah bukit di sebelah Pantai Krakal yang dikasih nama Bukit Jujugan. Dari atas situ kita bisa ngeliat Pantai Krakal dan Pantai Sadranan:

 (Captured with my Treq Tune Z2) 

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

 (Captured with my Treq Tune Z2)

Entah lah itu kenapa fotonya pada belajar terbang semua hahahaha... Dan anehnya lagi ada beberapa pengunjung yang sengaja niru kita-kita buat foto-foto pas lagi belajar terbang XD
Setelah puas main-main di Kawasan Pantai Karst Gunungkidul (itu tulisan di gapura gede di deket pantai) kita meluncur ke Parangtritis buat makan malam. Dan perjalanannya melewati hutan-hutan jati, hingga ke Parangtritis. Bukan ke Pantai Parangtritis sih, lebih tepatnya ke Pantai Depok, letaknya sekitar 2 km setelah Pantai Parangtritis. Ini nih viewnya:

  (Captured with my Treq Tune Z2)

Sempat shock juga, dari pantai pasir putih berubah jadi pantai pasir hitam hahahaha. Tapi tujuan kita bukan buat menikmati pantainya gaess, kita mau makan. Yap, kita cuma makan keripik, roti, mie instan, dan belum makan nasi sehingga kita pesan yang banyak. Ini rumah makannya:

RM Sedyo Rukun (Captured with my Treq Tune Z2)
 
Ini nih yang kita pesen di rumah makan tersebut, yang kesemuanya seafood hahahaha:
 
  Cumi goreng tepung (Captured with my Treq Tune Z2)

Cah kangkung  (Captured with my Treq Tune Z2)

Udang asam manis  (Captured with my Treq Tune Z2)

 Kerang dara entah diapain lupa (Captured with my Treq Tune Z2)
 
Karena kita semua kelaparan, akhirnya ludes dan nambah nasi satu bakul kecil lagi hahahaha. Kalo dikira-kira ane makan 3 piring dan Om Bayu 2 piring, sementara Mbak Husna cuma 1 piring doang (miris gaess). Ane dipaksa makan banyak sama Om Bayu karena alasan ane adalah tamunya ahahaha...
 
Ini bukti kesadisan kita ketika kelaparan:
 
  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)

  (Captured with my Treq Tune Z2)
 
Tepat pukul 19.30 waktu Parangtritis kita meninggalkan wilayah pesisir untuk kembali ke kota Jogja, beristirahat, dan merenungi semua yang uda kita alami seharian penuh. Akhir kata, jagalah keindahan alam Indonesia karena kita hanya meminjam alam ini untuk anak cucu kita nanti ;)
 
--- From Jogja with love ---

Sabtu, 17 Januari 2015

TAN MALAKA: KOMUNIS? SOSIALIS? ATAU NASIONALIS? ATAU ...?

TAN MALAKA

Selamat siang menjelang sore gaess, di sela-sela menghitung-hitung setumpuk lembar kerja di depan laptop ijinkanlah saya berkoceh lagi di sini. Ya gak bakalan ada yang ngelarang, ini blog saya weeek hahaha... Sebenernya saya gak punya ide apa-apa waktu mau nulis postingan ini, tapi ketika saya browsing di hardisk laptop kok nemu nama Tan Malaka. Entah saya sendiri juga heran, kenapa akhirnya nama Tan Malaka yang muncul, kenapa tidak dengan nama mantan saya, atau calon pacar saya, atau adek-adek yang cantik mungkin?

Mungkin nama Tan Malaka populer di kalangan akademisi dan aktivis di berbagai kampus di seantero Nusantara. Tapi namanya masih kalah pamor sama artis Korea atau penyanyi sekelas Justin Mbeber (wah pelanggaran!). Bercanda gaess, namanya tidak setenar nama pahlawan lain atau tokoh-tokoh nasional lainnya. Tapi saya tercengang dengan kisah pelariannya mulai dari Singapura, Thailand, Hongkong, hingga Filipina (ingatkan kalo rute/wilayah pelariannya salah). Saya juga terkagum-kagum dengan ide politiknya. Gagasan-gagasannya orisinil, saya bisa katakan gagasannya one of the best ever. Cara hidupnya yang kucing-kucingan juga asik buat ditiru (don't try this at home). Semua itu tak lepas dari ide-ide dan konsep pemikirannya tentang Indonesia.

Sebelumnya saya kasih sedikit pengantar awal kisah saya mengenal seorang Tan Malaka. Saya masih sedikit bisa mengingat, pada waktu saya kuliah sejarah semester 4 saya dapat tugas membuat sebuah kliping dari majalah-majalah lama. Saya minta tolong alm. Mama saya (semoga surga Allah menjadi tempat terindah untuk Beliau ) membelikan beberapa majalah bekas. Waktu itu saya masih cupu gaess, dandanan saya gak banget lah untuk kelas anak kuliahan hahahaha... Nama Tan Malaka masih sedikit asing. Ketika majalah pesanan saya sudah ada di rumah saya lihat satu per satu. Semua ada 4 majalah, dan kesemuanya majalah Tempo terbitan tahun 1986-1988. Banyak peristiwa yang saya gak tahu di tahun-tahun tersebut. Persitiwa pembobolan rekening BNI 1946 pada malam tahun baru 1987 di New York sekaligus menjadi kejahatan cybercrime terbesar di Indonesia pada waktu itu, nukilan biografi sang maestro catur Pakdhe Gary Kasparov, dan hingga akhirnya nemu nukilan buku karya Harry Poeze tentang Tan Malaka. Harry Poeze ini lah yang sangat getol mencari semua tentang Tan Malaka.

Saya baca pelan-pelan, bagian yang saya ingat betul adalah bagian "Mendirikan PARI di Tengah Patung Budha". Yup, PARI itu bukan bahasa Jawanya padi, tapi singkatan dari Partai Republik Indonesia. Saya jujur terharu dan merinding, Tan Malaka di dalam situasi pelarian di Thailand mampu mendirikan sebuah partai dan sekaligus gagasannya mengenai Republik Indonesia (gagasan tersebut sudah ada di Naar de Republik Indonesia yang terbit tahun 1925). Tahun 1927 gaess, bayangin aja. Doi uda nyebut "Republik Indonesia", sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan. Eh, Sumpah Pemuda cuma nyebut nama Indonesia aja, tanpa Republik.

Oiya, Tan Malaka kok bisa di Thailand pada tahun segitu?
Jadi gini gaess, Tan Malaka itu awalnya diangkat sebagai ketua PKI. Nah doi ini mengkritik pendapat elit petinggi partai tentang pemberontahan yang mau dilakukan tahun 1926/1927. Dia berpendapat, pemberontakan tidak hanya bergantung kepada logistik saja. Kalo gak punya massa, gimana? Nah karena dianggap menentang kebijakan partai dan atas perintah pemerintah kolonial Belanda, Tan Malaka akhirnya menjadi seorang pelarian. Pendapat Tan Malaka tentang pemberontakan PKI 1926 terbukti benar. Pergerakan gagal, banyak yang ditangkap dan tokoh-tokohnya banyak yang run away ke luar negeri. Ya, Tan Malaka sebagai pelarian menurut saya lebih terhormat lah dari pada mereka yang run away ckckck...




 Tan Malaka balik ke Indonesia pada jaman Jepun. Pokoknya doi amat dirahasiakan keberadaannya, dan doi juga nyamar, ngaku sebagai buruh tambang batubara di Bayah, Banten bernama Husein. Menjelang kemerdekaan Tan Malaka beberapa kali "show up" ke beberapa tokoh pergerakan nasional. Di bawah tanah, doi ngompor-ngomporin para pemuda buat segera menyatakan kemerdekaan. Namanya anak muda ya, kayak pas lagi kasmaran, sikat saja daahhh hahaha... Dan doi nongol di Lapangan Ikada pada saat rapat akbar.


Doi keren gaess, jalan sebelahan sama RI 1. Dan RI 1 pun sangat segan dengan doi, karena isi kepalanya mengenai Indonesia sungguh maju. Mungkin kalo itu bisa didownload, bisa nyampe ribuan halaman PDF, bisa nyampe gigabyte-an mungkin hehehe...

Cuma sayangnya pemerintah Orba sengaja menghilangkan nama Tan Malaka sekalipun doi punya gelar Pahlawan Nasional. Entah apa motif yang sesungguhnya, mungkin Orba sensitif sama yang berbau komunis kali ya? Menurut pandangan saya, Tan Malaka itu kayak genre musik all arround. Semua paham "isme-isme"-an bisa ditemukan di semua gagasannya. Komunisme? Iya, sudah pasti karena Tan Malaka agen Komintern (Komunis Internasional). Islamisme? Oiya, jelas! Dia berpendapat bahwa komunis dan pan-islamisme bisa memenangkan dunia persilatan politik Indonesia. Sosialis? Sudah jelas gaess, tak usah diragukan lagi. Pemikirannya sangat sosialis. Nasionalis? Well, dia sudah mencetuskan nama Republik Indonesia di essainya yang legendaris, majestic abisss pokoknya. Naar de Republiek Indonesia terbit tahun 1925, meskipun isinya masih dari sudut pandang pemikiran komunis dan sosialis namun dia sudah mendahului jaman gaess. Jadi Tan Malaka itu memainkan hampir semua genre pemikiran pergerakan di Indonesia. Orang dulu pinter-pinter ya?

Apapun itu tentang Tan Malaka, doi sangat berjasa buat bangsa Indonesia. Dia patut dihargai, dipelajari pemikirannya. Cuma jangan ditelan mentah-mentah, yang mentah rasanya pasti gak enak hahaha...  Buat anak muda jaman sekarang, ya jangan cukup tau aja sama yang namanya Tan Malaka. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sini (dari blog ini hahaha) Kalo mau cari tahu, di internet banyak, bukunya Harry Poeze juga sudah sangat mumpuni untuk mengetahui Tan Malaka lebih jauh. Sekian dulu postingan hari ini, selamat menikmati hari Minggu kalian gaess ;)

-- VIVA HISTORIA -- 

Kamis, 15 Januari 2015

SEJARAH MASA KINI, SEJARAH UNTUK MASA DEPAN (Bagian 2)



HISTORIOGRAFI DAN HITAM PUTIH SEJARAH INDONESIA


Jumpa lagi gaess dengan saya, orang yang suka masa lalu. Eitss, bukan gak bisa move on loh ya! Move on kok terus, yang lain kenapa? Hahaha... Oke kali ini saya mau nyambung postingan pertama saya tempo hari. Perlu dicatat, biar kata postingannya agak-agak lucu (apa cuma saya yang bilang gitu?) tapi makna dari pembahasan WHAT IS HISTORY itu mahal dan dalam. Mahal karena saya baru bisa bikin postingan kayak gitu setelah menempuh kuliah S1 selama 6 tahun :D

Postingan kali ini merupakan postingan yang agak sedikit lebih berat. Topik yang saya pilih kali ini adalah HISTORIOGRAFI. Kalo dalam metode ilmu sejarah, historiografi ini merupakan metode terakhir dalam penelitian sejarah. Historiografi adalah proses penulisan sejarah dari apa yang sudah kita teliti. Misalnya kalian mungkin ada yang neliti tentang perkembangan cewek cabe-cabean dari masa kolonial sampe pasca kemerdekaan, nah hasil penelitian itu kemudian disusun secara sistematis menjadi suatu kesatuan utuh yang didukung dengan data-data dan berbagai macam sumber, sehingga bisa dinikmati khalayak ramai. Maka kalian akan tahu seputar cewek cabe-cabean beserta berbagai macam aspek perkembangan, seperti pola hubungan, dandanan, sampe fashion mereka huahahaha :D

Ngomong-ngomong tentang historiografi, ada suatu permasalahan klasik yang menurut saya menggelitik sekaligus menimbulkan pemikiran panjang. Sebelumnya saya akan memberi sedikit trivia quiz sama kalian...




Di atas adalah sebuah persegi yang berwarna hitam. Yup, mungkin kalian-kalian orang awam pasti bilang warnanya hitam. Tapi tidak dengan saya, saya dengan lantang akan bilang kalo kotak itu warnanya polkadot (lu uda buta ya mas?) Iya kenapa saya bilang itu polkadot. Saya mencoba memberi pemahaman yang lebih mendalam bagi kalian yang sudah "mbatin" saya sudah buta. Saya memakai pendekatan ilmu filsafat untuk bisa berani berkata itu kotak warnanya polkadot. Warna hitam bisa tersusun karena banyaknya titik-titik berwarna hitam yang memenuhi suatu tempat tertentu yang memiliki warna latar putih. Sudut saya berbeda karena saya memiliki pemahaman yang berbeda tentang deskripsi warna hitam. Jujun S. Sumantri berkata dalam salah satu bukunya, cukup tahu di tahunya dan cukup tahu di tidak tahunya.

Saya tidak bermaksud sombong dengan pertanyaan dan statement saya di atas. Saya ingin menekankan, bagi teman-teman yang (masih) menyepelekan sejarah, adik-adik kelas saya yang masih berjuang dengan seminar,proposal,dan skripsinya, teman-teman saya yang belum lulus, historiografi kita erat dengan hitam putihnya sejarah yang sudah tertulis di Indonesia. Sekalipun Mbah Sartono Kartodirdjo sudah membuka jalan historiografi sejarah Indonesia lebih indonesiasentris, tetap saja tidak bisa terlepas dengan apa yang namanya hitam putih itu.


Semua orang pasti tahu tentang gambar berlatar belakang merah menyala itu. Yup, itu adalah logo Partai Komunis Indonesia (ada yang mlesetin Partai Keadilan Indonesia). PKI itu erat dengan hitam putih historiografi Indonesia. Banyak sejarawan lokal maupun internasional yang menulis tentang PKI. Mulai dari Ben Anderson (sejarawan Cornell University,red) sampai para pelaku sejarah di peristiwa pemberontakan G 30 S tahun 1965. Menurut hemat saya, PKI "diduga" menjadi terdakwa dalam peristiwa itu. Saya tidak berusaha menghakimi bahwa PKI salah karena terlibat dalam penculikan beberapa jenderal Angkatan Darat, dan juga tidak membenarkan tentang ide-ide PKI. Jujur, saya sendiri pada awalnya adalah seorang yang anti PKI. Hal itu tak lepas dari campur tangan pemerintah pada masa Orba untuk menanamkan pemahaman ke dalam setiap kepala rakyat Indonesia bahwa PKI dan komunisme merupakan bahaya laten. Pemerintah Orba mendoktrin semua lapisan masyarakat dengan metode yang cukup jitu: film Peristiwa Pengkhianatan G30S/PKI. Pun halnya dengan laporan peristiwa G 30 S, pemerintah Orba menerbitkan sebuah "buku putih" yang judulnya panjang banget kayak rambut mbak kunti. Disebut buku putih karena sampulnya didominasi warna putih hahahaha...




Nah adek-adek kelas saya yang cantik-cantik, itu loh buku putihnya. Saya sempat membacanya, membandingkan dengan buku-buku sejenis yang bukan diterbitkan pihak Republik. Terkesan pemerintah Orba sangat menghakimi bahwa PKI adalah dalang. Namun dalam riset kecil saya itu (padahal kuliah juga jarang masuk hehehehe) saya menemukan fakta bahwa sebenarnya beberapa petinggi PKI malah tidak tahu dengan peristiwa G 30 S tersebut. Entah tidak tahu entah pura-pura tidak tahu entah yang lainnya. Njoto, petinggi CC PKI yang juga menjadi Menteri Negara, di saat hari-H malah ada kunjungan kerja ke Medan. Letkol Untung melalui pledoinya di Mahmilub (kosakata gaul itu hahaha) menjelaskan bahwa dia "direstui" Mayjend Soeharto untuk "menyikat habis" jenderal yang mau mengkudeta RI-1. Padahal yang napsu jadi presiden ya Pak Harto, ya kan? Sampe populer bilang :Piye, Sek Enak Jamanku Tho?" #akurapopo

Dari penjelasan di atas bisa dilihat benang merah topik postingan kali ini. Buku putih itu, adalah historiografi pemerintah Orba pada masanya. Setelah Orba runtuh, muncul berbagai macam tulisan yang (berusaha) membeberkan fakta yang ditutup-tutupi pemerintah Orba. Pemerintah hanya memandang PKI hanya dari sudut "hitam"nya saja. Sementara pasca reformasi, tulisan-tulisan yang muncul kemudian malah terkesan menyalahkan tindakan militer dan mengatakan PKI hanyalah korban. Pak Karno sebgai RI 1 juga bilang, PKI itu keblinger pengen ada di puncak. Terlepas dari penjelasan di atas, kalian tahu sendiri kan dampaknya apa? Adek-adek yang sering ke Bapersip Jatim, tau kan dampaknya? Gara-gara tulisan pemerintah Orba, maka stigma yang melekat tentang PKI itu cenderung jelek dan negatif. Bukan saya mendukung lho ya, saya cuma mengamati. Saya sebagai sejarawan (amatir) tidak memihak kepada pihak manapun. Kapasitas saya hanyalah sebagai enthusiast, penikmat sejarah, dan menjelaskan sejauh yang saya tahu kepada kalian dan mbak-mbak cantik.




Kita mundur sejenak ke jaman revolusi kemerdekaan gaess. Tau kan foto di atas? Tau kan Dek? Foto abang sewaktu jadi pejuang... Iya, pejuang hatimu hahahaha
Yup, itu foto Bung Tomo, salah satu pahlawan kebanggaan arek Suroboyo. Dia berperan besar dalam menggerakkan segenap rakyat Surabaya untuk mempertahankan Surabaya dari gempuran Belanda pada pertempuran 10 November. Kalian juga akan spontan menjawab, rakyat Surabaya bertempur melawan penjajah. Itu benar gaess, tidak salah sama sekali. Tapi apakah ada yang mencoba melihat ini dari sudut pandang lain. Misalnya pembantaian orang-orang Belanda yang populer dengan sebutan "Senin Berdarah". Remaja-remaja Walanda yang masih unyu-unyu pada waktu peristiwa pertempuran 10 November pasti akan ingat betul dengan peristiwa "Senin Berdarah" itu. Coba deh Adek browsing di laptopnya Adek, kalo bisa nemu penjelasan "Senin Berdarah", Abang kasih Adek status baru, jadi istri Abang :D
Peristiwa "Senin Berdarah" merupakan peristiwa kecil yang sangat sedikit sekali yang mengungkapkan tapi memiliki efek psikologis yang buruk bagi para remaja Walanda unyu-unyu yang waktu itu masih netap di Surabaya. Adanya pembantaian yang dilakukan oleh sekelompok arek Suroboyo terhadap orang-orang Belanda di Simpang Societeit (Balai Pemuda gaess). Inilah yang tidak diungkap oleh kebanyakan sejarawan di masa kini. Mereka memandang suatu peristiwa penting dalam konteks umumnya, tanpa berani memandang konteks yang lebih kecil namun bisa jadi lebih penting daripada konteks umumnya. Historiografi sejarah selama ini hanya membahas seputar pertempurannya saja. Sekali lagi, ada sedikit rasa menghakimi bahwa Belanda adalah penjajah yang harus dilawan, sementara ada sekelompok orang Belanda yang tidak tahu menahu tentang perang itu malah menjadi korban keberingasan arek-arek Suroboyo yang meletup-meletup akibat pertempuran 10 November.

Saya menjelaskan seperti itu bukan berarti saya pro penjajah. Saya cinta Indonesia, KTP saya warga negara Indonesia, dan saya cinta kamu, Dek hahaha... Saya hanya menyajikan fakta yang tidak banyak diketahui oleh khalayak ramai. Sebagai pertanggungjawaban, saya ada film dokumenternya gaess. Asli dari Belanda, dengan sudut pandang orang Belanda yang menjadi korban, bukan sebagai penjajah. Sekali lagi, historiografi harus lebih adil dalam porsi penulisan sejarah. Maksud saya, tidak hanya membahas hal-hal yang umum melulu, kan hal-hal umum itu awalnya berasal dari hal-hal yang bisa dibilang gak umum, namun karena memori kolektif masyarakat serta tanggapan masyarakat atas suatu peristiwa itulah yang menjadikan hal tersebut menjadi umum dan menimbulkan sudut pandang secara massal.

Bisa disimpulkan dari 2 penjelasan saya di atas bahwa dalam konteks tradisi historiografi sejarah Indonesia, masih banyak yang memandang satu masalah hanya pada satu sisi. PKI yang dianggap pemberontak, Belanda yang dianggap penjajah. Pendapat tersebut benar tapi juga tidak benar? Lho, kok bisa? Ya bisa lah, gue gitu loh :D
Saya tidak mengatakan salah, kalo salah ya pasti tidak ada yang benar. Saya cukup bilang tidak benar, berarti ada beberapa yang salah. Oke, historiografi itu sendiri sudah ada sejak jaman dewa-dewa masih mengayomi kehidupan manusia. Mereka menuliskan tentang something important (bukan impoten) pada masa itu. Ambil saja Homerus, penyair kondang dari Yunani. Doi ini nulis tentang kisah perang Troya. Itu lho perang yang pake jaranan (lu kata reog?). Homerus ini menuliskan kisah perang Troya dalam bentuk syair dan puisi. Nah lho, sangat berseni bukan orang jaman dahulu? Sejarah aja jadi puisi (Ingat-ingat pelajaran fungsi sejarah hahaha). Kemudian lahirlah si Bapak Sejarah yang punya nama keren: Herodotus. Dia yang kemudian ngembangin teknik nulisnya Kang Homerus yang sebelumnya bentuk puisi dan syair jadi bentuk prosa. Gak tau prosa? Tanya anak Sastra Indonesia, mereka lebih jago nerangin hahaha... Herodotus mulai menghilangkan unsur mitos dewa dewi dan teologi dalam menulis sejarah, dan mulai menerapkan kajian ilmiah. Tapi ada nih sebagian kalangan yang nganggep Herodotus ini cuma nulis laporan pengamatan doang. Macam anak SMA aja ya? Terlebih lagi sumber-sumber yang digunakan dalam karya Herodotus ini cuma sumber lisan. Ya Adek tahu sendiri lah, mulut manusia bisa berubah-berubah, sekarang sayang, besok uda gak sayang hahahaha...
Ada lagi yang namanya Thucydides, dia yang nulis kisah perang Sparta-Athena yang legendaris itu. Dia merupakan saksi sekaligus pelaku sejarah, dia Jenderal bintang 7 di pasukan Sparta. Di sini dia mulai mengenalkan apa yang dinamakan sebagai kritik sumber gaess. Dan seterusnya bermunculan penulis-penulis sejarah di masa itu. Sampe akhirnya ketemu nih sama Pakdhe Agustinus yang hidup di masa Romawi. Doi ini nulis sebuah manuskrip berjudul De Civitate Dei. Hmmm, namanya kayak adek yang cantik banget itu. Bukan itu, itu bahasa Latin gaess, yang artinya The City of God alias Kota Tuhan (terjemahan bebas Google Translate). Ini yang menjadi pengantar pokok di postingan guwe kali ini. Doi ini membela Romawi dari bangsa tak bertuhan bernama bangsa Visigoth. Ya maksudnya bangsa Visigoth ini masih percaya dewa dewi sementara Roma sudah menjadi negara Kristian. Dia mengatakan dalam bukunya bahwa Kristianitas bukan penyebab Romawi runtuh. Ini karya monumental gaess, De Civitate Dei ini 22 jilid, yang kebanyakan isinya ya membully kaum-kaum pagan. Isinya sih, sekalipun kaum pagan menguasai Romawi gak berarti Romawi bakal bebas dari masalah. Di sinilah saya memutuskan untuk menjadikan tulisan Agustinus itu sebagai patokan. Dia menulis bukan dari hati, dari kemauannya. Dia dipaksa nulis sama teman ngopinya di giras yang bernama Marcellinus. Dia memberikan pembelaan dan hanya memihak kepada satu tema saja: ketuhanan. Dia tidak berusaha mempelajari faktor-faktor yang lain tentang keruntuhan Romawi, misal dari sisi ekonomi atau politik, atau bahkan mungkin sosialnya.

Ini lho yang nantinya juga ditiru oleh sejarawan-sejarawan di masa modern. Seperti kata pepatah yang sering nongkrong bareng guwe di giras, apa yang kau panen itu adalah apa yang kau tanam dahulu. Gaya nulis sejarawan akhirnya cenderung  terkesan hanya pada satu presepsi saja. Kalo merunut pembahasan saya tentang PKI di atas, hal itu bisa jadi benar. Pemerintah juga memiliki kepentingan dalam merekonstruksi memori kolektif rakyat Indonesia bahwa PKI itu seperti ini, seperti itu, macam ini itu dan seterusnya. Seperti halnya Pakdhe Agustinus, dia juga sedikit terpengaruh oleh Lek Marcellinus pada waktu ngomongin politik di giras. Kepentingan bukan? Politik bukan?

Selain itu, masalah "sentris-sentris"-an juga mempengaruhi historiografi. Historiografi tradisional Nusantara misal, maka sentris-nya ya raja-raja, kekuasaan, raja sebagai utusan dewa dan lain sebagainya. Menginjak masa kolonial, sentris-nya ya Nederlandsentris. Pemerintah kolonial menulis segala sesuatunya demi kepentingan di tanah jajahan. Masa pergerakan, ya mulai sentris-nya ke nasionalisme Indonesia baru. Sampe merdeka, masa revolusi, sentris-nya ya sesuai dengan waktu itu. Oiya, namanya zeigeist yang artinya jiwa jaman. Sentris-sentris historiografi itu erat hubungannya dengan jiwa jaman pada waktu itu. (Lu ngarti kagak?) Dalam Seminar Nasional Sejarah yang pertama, sempet ada argumen mengenai historiografi yang ada di Indonesia. Pada waktu itu muncul perselisihan pendapat antara Muhammad Yamin dan Soedjatmoko. Yamin berpendapat bahwa penelitian ilmiah seharusnya mengarah pada interpretasi nasionalis yang dapat berguna untuk memperkuat kesadaran nasional. Sodjatmoko berpendapat nasionalisme mengesampingkan pendekatan ilmiah murni, karena itu ia menjunjung tinggi tanggung jawab perorangan dan semacam universalisme abstrak. Soedjatmoko kalah suara dikarenakan pendekatannya tidak sesuai dengan kondisi masyarakat tahun 1950-an, saat rakyat di Indonesia didorong untuk menjadi orang Indonesia.

Terlepas dari penjelasan mbulet plus ruwet itu, historiografi adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap kehidupan dan Tuhan. Lah kok bawa-bawa Tuhan? Yaiyalah, satu-satunya hal yang tidak bisa dilakukan oleh Tuhan adalah merubah sejarah. Berarti sejarawan itu diatasnya Tuhan dong? Terserah kalian mau memikirkan seperti apa, tapi itu sedikit anekdot yang nunjukin kalo kita sebagai sejarawan juga dituntut untuk mempertanggungjawabkan suatu permasalahan yang sedang kita kaji. Tengok rumusan masalah kalian wahai adek-adek yang cantik dan unyu-unyu, sudahkah kalian mengangkat masalah dengan adil? Makanya ada sebuah ide yang muncul di kala historiografi sejarah di Indonesia masih begini-begitu aja. Yup, pendekatan sejarah secara post-modernisme? Seperti apa itu? Nanti, saya belum belajar hahaha. Sedikit bocoran, baca bukunya Fukuyama yang judulnya agak ngeri, The End of History (adek-adek cantik kalo pengen bukunya, ping me ya :P). Doi nulisnya pake pendekatan post-modern. Secara garis besarnya, pendekatan post-modern ini memandang bahwa segala sesuatu yang ada di kehidupan kita layak untuk dikaji. Jadi misal sejarah PKI, kan yang dibahas culik-menculik doang kan? Pernah nggak ada yang nulis tentang kondisi rumah Pak Nasution? Senapan yang mereka pakai untuk memberondong jenderal-jenderal tersebut? Pendekatan post-modern bisa dijadikan sebagai metode alternatif dalam historiografi sejarah Indonesia di masa modern sekarang. Biar tulisan kita tidak memihak hitam atau putihnya doang, tapi bisa lebih komprehensif dalam menulis suatu penelitian sejarah. Mengenai post-modernisme, nanti lah diagendakan dalam posting selanjutnya.


Historiografi hitam-putih ini juga punya efek samping, persis kalo kalian habis minum obat flu. Dampak lainnya dari historiografi tak lain dan tak bukan adalah berkembangnya MITOS SEJARAH. Saya akan membahas mengenai mitos sejarah dalam posting selanjutnya. Sebagai contoh di sini adalah penjajahan Belanda di Indonesia. Mulai dari orang Papua yang masih pake' koteka sampe cabe-cabean dan terong-terongan pasti tahu tentang hal itu. Pada jaman SD dulu, kalo kita ditanya berapa lama kita dijajah Belanda (kita? lu aja keles). Pasti rame-rame menjawab kompak serempak dijajah selama 350 tahun. Nah pertanyaannya sekarang, emang bener kah Indonesia dijajah Belanda selama itu? Itu nanti Dek, Mbak, Mas, akan saya jelaskan di postingan selanjutnya ;) Di jamin dah kalian akan menjadi (sedikit) lebih pinter membaca blog dan postingan saya ini hahaha. Tapi bisa nemu blog ini gak ya?

Fenomena pemahaman 350 tahun dijajah Belanda, itu juga hasil dari historiografi gaess. Apalagi pada waktu itu Belanda yang punya kuasa di tanah air kita, ngomong asal njeplak pun didenger dan mau gak mau harus diinget. Serius, 350 tahun itu awalnya statement njeplak gaess!!! Tapi karena Belanda jadi meeneer di Indonesia, ya akhirnya sampe sekarang buku-buku sejarah yang beredar masih setia menuliskan Indonesia dijajah 350 tahun. Pikirkan, relakah negerimu dihina seperti itu? (sok nasionalis hahaha)

Makanya Dek, mumpung kalian masih cantik-cantik dan bersemangat, maka selamilah sejarah secara dalam. Maka niscaya kalian akan menemukan betapa indahnya sejarah, dan endingnya mikir ternyata sejarah itu rumit juga ya hahaha serumit memahami isi hatimu Dek :D
Jangan cuma ke Bapersip, ke perpustakaan hanya sekedar mengejar lulus dengan tepat waktu dan IPK bagus. Percayalah dek, lulus tepat waktu itu gak keren. Yang keren adalah lulus di waktu yang tepat hahaha...
Next posting, saya akan membahas mengenai MITOS DAN SIMBOLISASI SEJARAH termasuk membahas fenomena Indonesia vs Belanda selama 350 tahun dan mitos-mitos yang lain...

 -- BERSAMBUNG --